Blitar – Mahasiswa Magister Peternakan UNISMA, Diah Nurulita, melaksanakan kegiatan Kandidat Magister Mengabdi (KMM) dengan mengangkat tema “Pengaruh Iklim dan Cuaca terhadap Kesehatan Unggas”. Kegiatan ini berlangsung pada 1–12 November 2025 dan melibatkan 20 peternak ayam layer di Desa Dermojayan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh perubahan iklim global yang ditandai dengan meningkatnya suhu lingkungan, pola curah hujan yang tidak menentu, serta cuaca ekstrem. Perubahan iklim ini mulai dirasakan dampaknya oleh peternak unggas di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Blitar. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kenyamanan ternak, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan dan produktivitas ayam layer.
Kabupaten Blitar sendiri dikenal sebagai salah satu sentra utama produksi telur ayam ras nasional. Berdasarkan data tahun 2024, populasi ayam layer di wilayah ini tercatat mencapai lebih dari 16,8 juta ekor, menjadikannya daerah dengan populasi layer tertinggi di Indonesia. Dengan potensi tersebut, menjaga kesehatan ternak dan stabilitas produksi menjadi hal yang sangat krusial, terutama di tengah tantangan perubahan iklim.
Temuan Lapangan: Produksi Menurun dan Penyakit Meningkat
Kegiatan KMM diawali dengan kunjungan ke kandang peternak pada 1–10 November 2025. Mahasiswa melakukan observasi kondisi kandang, diskusi dengan peternak, serta identifikasi permasalahan yang muncul akibat perubahan cuaca.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar peternak mengalami penurunan produksi telur, meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti Chronic Respiratory Disease (CRD) dan Snot/Coryza, serta munculnya heat stress pada ayam akibat suhu lingkungan yang tinggi. Selain itu, kelembapan kandang yang meningkat menyebabkan kotoran ayam menjadi basah dan kadar amonia naik, sehingga memperparah kondisi kesehatan unggas.
“Cuaca sekarang sulit diprediksi. Pagi dingin, siang sangat panas, malam lembap. Ayam jadi mudah stres dan sering sakit,” ungkap salah satu peternak peserta kegiatan.
Kondisi ini sejalan dengan karakteristik hewan homeoterm yang memilikkisaran suhu nyaman yang relatif sempit. Ketika suhu lingkungan berada di luar zona nyaman, ayam akan mengalami gangguan fisiologis yang berdampak pada performa produksi.
Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Unggas
Dalam tinjauan pustaka yang disampaikan pada kegiatan seminar, dijelaskan bahwa perubahan iklim berkontribusi terhadap peningkatan suhu rata-rata global, perubahan kelembapan udara, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem. Suhu lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan cekaman panas (heat stress) pada unggas, yang ditandai dengan peningkatan frekuensi pernapasan, penurunan konsumsi pakan, dan gangguan metabolisme.
Heat stress juga berdampak pada sistem imun unggas. Ayam yang mengalami stres panas cenderung mengalami penurunan aktivitas sel imun dan produksi antibodi, sehingga lebih rentan terhadap serangan penyakit. Hal inilah yang banyak ditemukan pada peternak layer di Desa Dermojayan.
Selain suhu, kelembapan dan curah hujan tinggi turut meningkatkan risiko penyakit unggas. Lingkungan kandang yang lembap menjadi media ideal bagi pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur. Kondisi lembap juga meningkatkan risiko kontaminasi jamur penghasil mikotoksin pada pakan, yang dapat menyebabkan gangguan hati dan penurunan daya tahan tubuh ayam.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia juga menegaskan bahwa perubahan iklim dapat mengubah pola distribusi penyakit unggas serta memperpanjang daya hidup agen patogen di lingkungan. Dengan demikian, perubahan iklim tidak hanya berdampak pada kenyamanan ternak, tetapi juga pada dinamika penyakit di tingkat peternakan.
Seminar sebagai Wadah Edukasi dan Diskusi Peternak
Sebagai tindak lanjut dari temuan lapangan, seminar edukasi dilaksanakan pada 12 November 2025 di kediaman salah satu peternak, Bapak Daroini. Seminar ini menjadi wadah penyampaian materi sekaligus diskusi terbuka antara mahasiswa dan peternak.
Dalam pemaparan materi, dijelaskan berbagai strategi adaptasi yang dapat diterapkan peternak untuk menghadapi perubahan iklim, antara lain pengaturan ventilasi kandang, pengendalian kelembapan, manajemen kepadatan ternak, serta pemberian pakan dan suplemen yang mendukung daya tahan tubuh ayam. Selain itu, pentingnya penerapan biosekuriti juga ditekankan untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit.
Para peternak terlihat antusias mengikuti kegiatan ini dan aktif menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi. Diskusi berlangsung interaktif dengan fokus pada solusi praktis yang dapat diterapkan sesuai kondisi peternakan rakyat.
“Kegiatan ini sangat membantu kami memahami penyebab ayam sering sakit saat cuaca ekstrem dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya,” ujar salah satu peserta seminar.
Dampak dan Harapan ke Depan
Melalui kegiatan KMM ini, peternak diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam manajemen pemeliharaan ayam layer. Peningkatan wawasan peternak menjadi kunci penting dalam menjaga produktivitas ternak di tengah perubahan iklim yang terus berlangsung.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran mahasiswa pascasarjana UNISMA sebagai agen perubahan yang berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya di masyarakat. Dengan sinergi antara akademisi dan peternak, diharapkan sektor peternakan unggas dapat tetap produktif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
English
