Malang, Anggota rombongan belajar doktor PAI dari Pontianak menyusul rekan-rekan mereka yang telah menempuh ujian terbuka pada pekan-pekan sebelumnya, kini giliran Fery Yanto, S.Pd.I., M.Pd., H. Ruslan, S.Ag., M.Si., dan Mus Mulyadi yang berhasil mempertahankan disertasinya pada Kamis (23/7/2026).
Ketiga promovendus ini berhasil lulus dengan predikat Dengan Pujian setelah melalui rangkaian sidang yang dipimpin oleh tim penguji, dipimpin ole rektor UNISMA, Prof. Junaidi, M.Pd., Ph.D., Prof. H. M. Mas’ud Said, M.M., Ph.D sebagai sekretaris. Dewan penguji lainnya yaitu Prof. Dr. Imam Suprayogo, Prof. Dr. Nursyam,M.Si., Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si, Dr. Moh. Afifulloh, M.Pd., Dr. Syamsu Madyan, Lc., M.A., serta penguji tamu Dr. Muhajirin Yanis (Kepala Kanwil Kemenag Kalimantan Barat).
Baca pula Mahasiswa S3 PAI dari Rombongan Belajar Pontianak Lulus Ujian Terbuka
Fery Yanto mengangkat topik budaya Tundang Melayu dalam kaitannya dengan pendidikan agama Islam multikultural. Tundang merupakan akronim dari pantun berdendang, sebuah seni pertunjukan yang memadukan pantun, syair, dan perkusi (gendang).
Fery menyoroti pentingnya penelitian ini dalam merajut kembali memori kolektif masyarakat Pontianak pascakonflik antaretnis. Hasil risetnya merekomendasikan Tundang sebagai media pembelajaran untuk menciptakan masyarakat yang damai. Sebuah pesan mengharukan dari pencipta Tundang menjadi motivasi tersendiri bagi Fery, “Nak, kalau aku sudah tidak ada, Tundang ini dilestarikan ya. Jangan hanya dijadikan penelitian saja.”


H. Ruslan memfokuskan penelitiannya pada potret pendidikan di organisasi Jam’iyatul Islamiyah, Kayong Utara, Kalimantan Barat. Fokus utamanya adalah bagaimana institusi organisasi mengelola nilai-nilai keislaman dalam prespektif pendidikan Islam Multikultural.
Mulyadi mempertahankan disertasi mengenai bimbingan konseling multietnis di Madrasah Aliyah Negeri 2 Pontianak. Penelitian ini dinilai krusial untuk meningkatkan integrasi sosial, mengingat subjek penelitiannya memiliki keragaman latar belakang etnis seperti Melayu, Madura, Jawa, Batak, dan lainnya. Riset ini memperluas dimensi bimbingan konseling dengan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan agama Islam yang berorientasi multikultural.
Baca pula 3 Mahasiswa dari Bangka Belitung dan Pontianak Pertahakan Disertasi Saat Ujian Terbuka


Ketiga mahasiswa ini tidak hanya lulus dengan membanggakan. Penelitian mereka juga sudah dipunlikasikan dalam bentuk buku. “Ini pertama kalinya, 3 mahasiswa yang diuji beruturut-turut memberikan sumbangsih berupa buku” Takjub Prof. Imam Suorayogo.
Direktur Pascasarjana, Prof. Masud Said, juga menegaskan “biasanya hanya satu orang maksimal dalam sesi ujian yang memberi buku”.
Semoga ilmu yang diperoleh dari Unisma semakin memberi manfaat untuk masyarakat terutama di Pontoanak dan seluruh kab/kota di Kalimantan Barat. Sekali lagi, selamat! (AL/PPS)

