Direktur Pascasarjana Hadiri Pengukuhan Guru Besar UGM, Prof. Nur Rachmat Yuliantoro

Pada hari Kamis, 24 Juli 2025. Direktur Pascasarjana Unisma, Prof. M. Mas’ud Said, MM., Ph.D memenuhi undangan salah satu teman kuliah saat menempuh studi di Flinders University Australia, Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro.

Prof. Masud Said merupakan alumni Flinders University pada Social Sciences, disaat yang sama Nur Rachmat Yuliantoro menempuh Master of Art pada jurusan International Studies. Rachmat Yuliantoro juga menyelesaikan program doktor Asian Studies pada kampus yang sama.

Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro dikukuhkan menjadi Guru Besar FISIP pada program studi Hubungan Internasional. Sub Bidang Kajian Pembangunan Internasional di Asia Timur.

Baca pula Prof. Mas’ud Ikuti Sosialisasi Beasiswa LPDP–Kings College Bersama Gubernur dan Para Rektor PTKIN Jatim 

Prof Masud Said mencatat isi penting dari pidato pengukuhannya berjudul Isu Jebakan Utang Dalam Pembiayaan Proyek Proyek Belt and Road Initiative (BRI) Cina di Indonesia: Sebuah Kajian Terbuka Tentang Kompleksitas dan Tantangan.

Dalam kaitan itu Prof Nur Rahmad Yuliantoro men-challenge anggapan dan kesimpulan Brahma Chellancy seorang akademisi India bahwa utang utang yang besar Indonesia terhadap Cina adalah jebakan yang oleh ahli. Banyaknya hutang ini disebut oleh Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson sebagai predatory lender.

Prof Masud saat mengikuti upacara pengukuhan guru besar Prof Nur Rachmat Yuliantoro
Prof Masud dan Prof Rachmat bersama guru besar dari berbagai kampus di dalam dan luar negeri.

Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro mencontohkan ini dengan kasus utang pembanguan jalan kereta api Jakarta – Bandung WOOSH dari Cina diperbandingkan dengan pemerintahan Sri Langka yang terlilit hutang pembangunan pelabuhan, pembangunan bandar udara, jalan tol dan pembangunan pembangkit listrik yang akhirnya. Ketika Pemerintah Sri Langka kesulitan melunasi hutang, paset tersebut dikuasai oleh Cina.

Berbeda dengan anggapan umum, Prof Nur Rachmat Yuliantoro mengatakan bahwa Indonesia tak sama dengan Sri Langka, namun demikian pemerintah Indonesia diminta berhati-hati dan selalu menghitung risiko apabila proyek serupa dikembangkan terlalu eksesif. Bisa memperlemah daya tahan dan mengakibatkan risiko ketergantungan yang berakibat tidak baik untuk pembangunan negara.

Baca pula UNIBA Balikpapan Lakukan Benchmarking dan Teken PKS dengan Pascasarjana UNISMA