Malang – Perjalanan menuju gelar doktor tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga menuntut ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan. Semangat tersebut terlihat dalam ujian disertasi terbuka Program Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) yang digelar pada Senin, 3 Agustus 2026.
Tiga promovendus, Drs. Hidayatul Mustofa, M.Pd.I., Kandarismanto, dan Muammar Najib, berhasil mempertahankan disertasi mereka di hadapan dewan penguji. Ketiganya mengangkat tema yang berbeda, namun memiliki benang merah yang sama, yakni pengembangan pendidikan Islam dalam membentuk manusia yang beretika, religius, dan berkarakter.
Tetap Berjuang Meski Kondisi Kurang Sehat
Salah satu kisah yang mendapat perhatian dalam ujian tersebut datang dari Hidayatul Mustofa. Dalam kondisi kesehatan yang kurang prima, ia tetap menjalani ujian untuk mempertahankan disertasinya yang berjudul “Membangun Etika dan Moral Generasi Milenial Perspektif Pendidikan Islam Multikultural di Institusi Agama Islam Al Muhammad Cepu.”
Perjuangan tersebut mendapat apresiasi dari dewan penguji. Hidayatul dinilai telah menunjukkan keteguhan dalam menjalani proses pendidikan doktoral, mulai dari memutuskan untuk melanjutkan studi hingga mencapai tahap akhir berupa ujian disertasi terbuka.
Semangat tersebut ia refleksikan melalui motto:
“Innallaha la yughayyiru biqoumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim.”
Motto tersebut menjadi gambaran semangat Hidayatul dalam menjalani proses panjang pendidikan doktoral. Perjalanan menuju gelar doktor, baginya, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi juga proses untuk terus melakukan perubahan dan memperbaiki diri.
Apresiasi terhadap semangat tersebut menjadi salah satu momen penting dalam ujian. Kondisi yang kurang sehat tidak menghentikan langkahnya untuk menyelesaikan proses akademik yang telah ia mulai.
Multiple Intelligences Tak Berhenti di Ruang Kelas
Promovendus kedua, Kandarismanto, membawa kajian tentang pendekatan multiple intelligences melalui disertasinya yang berjudul “Pendekatan Multiple Intelligences untuk Meningkatkan Religiusitas Perspektif Pendidikan Islam Multikultural (Kajian Etnografi tentang Proses Pembelajaran di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Al Muhammad Cepu).”
Penelitian tersebut menemukan bahwa multiple intelligences tidak hanya dapat diterapkan sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, pendekatan tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari transformasi pada tingkat lembaga pendidikan.
Dalam penelitian Kandarismanto, ditemukan lima bentuk kecerdasan yang menonjol, yaitu intrapersonal, interpersonal, verbal-linguistik, visual-spasial, dan musikal-ritmik.
Kelima aspek tersebut menunjukkan bagaimana keberagaman potensi kecerdasan dapat diarahkan untuk mendukung peningkatan religiusitas. Religiusitas dalam penelitian ini berkaitan dengan tingkat keberagamaan yang tercermin melalui ketaatan dan spiritualitas.
Temuan tersebut memperluas pemaknaan multiple intelligences. Pendekatan tersebut tidak semata-mata digunakan untuk membantu peserta didik belajar sesuai potensinya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya pendidikan yang mendukung perkembangan religiusitas.

Nilai Pendidikan Islam Multikultural untuk Membentuk Karakter Santri
Sementara itu, Muammar Najib mengangkat persoalan pembentukan karakter santri melalui disertasi berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural sebagai Spirit dalam Pembentukan Karakter Santri Pondok Pesantren Sunan Bejagung Tuban.”
Penelitian tersebut menempatkan nilai-nilai pendidikan Islam multikultural sebagai spirit dalam proses pembentukan karakter santri. Kajian ini menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan keislaman, tetapi juga pada pembentukan karakter dalam kehidupan sosial yang beragam.

Diuji oleh Dewan Penguji
Ujian disertasi terbuka tersebut dipimpin oleh Rektor UNISMA sebagai ketua dewan penguji dan Direktur Pascasarjana sebagai sekretaris. Dewan penguji lainnya terdiri atas Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., Prof. Dr. Imam Suprayogo, Prof. Dr. Maskuri, M.Si., dan Dr. Moh. Afifulloh, M.Pd.
Setelah melalui proses ujian dan penilaian, ketiga promovendus dinyatakan lulus. Hidayatul Mustofa dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan, sedangkan Kandarismanto dan Muammar Najib meraih predikat sangat memuaskan.
Ujian disertasi tersebut sekaligus menjadi penanda berakhirnya satu tahap panjang perjalanan akademik ketiga promovendus. Lebih dari sekadar pencapaian gelar, ketiga penelitian yang mereka hadirkan membawa gagasan tentang bagaimana pendidikan Islam dapat terus berkontribusi dalam membentuk generasi yang memiliki etika, religiusitas, dan karakter di tengah masyarakat yang semakin beragam.

