Direktur Bicara Tantangan Implementasi Pancasila

Prof. M. Mas’ud Said, Direktur Pascasarjana Unisma sekaligus Ketua ISNU Jawa Timur  berbicara tentang tantangan implementasi Pancasila pada berbagai kebijakan.  Penyampaian itu dipaparkan pada Sarasehan Kebangsaan diselenggarakan oleh Yayasan Al Hikam Depok Jawa Barat.  Turut menjadi Pembicara, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada agenda yang dilaksanakan hari Sabtu 13 Maret 2020.

Seminar yang dihadiri lebih dari 100 santri Al-Hikam, perwakilan lembaga, kiai, dan tokoh masyarakat setempat  tersebut mengusung tema Menumbuhkan Pancasila sebagai landasan kebersamaan nasionalis religius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sarahsehan Kebangsaan ini dihadiri oleh tokoh yang konsen dalam penguatan kebangsaan dan keagamaan, di antaranya Kepala BPIP Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D, selanjutnya KH. DR. As’ad Said Ali dan Direktur Pencegahan BNPB, Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME serta Sekretaris Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin.

Prof. Masud Said bersama para pemateri Sarahsehan Nasional di Al-Hikam Depok

Dalam paparan session kedua setelah session yang dihadiri oleh Kepala BPIP, Prof Masud Said mengatakan bahwa Pancasila harus diperkuat dari sisi struktur Badan Pembinaanya, harus ada tokoh tokoh sentral yang dianggap icon seperti Pak Harto dan menteri menterinya.

Sekarang kita miskin tokoh ikon Pancasila. Struktur penyelenggara seperti Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) yang ada di era dulu juga sudah hilang. Paket kebijakan ala Pancasila yang mecakup secara komprehensif seperti GBHN juga tidak ada.

Prof Masud memberikan keterangan lanjutan bahwa Penguatan implementasi Pancasila ada pada kehendak untuk persatu dan kepemimpinan Pancasila dan daya dukung implimentasi Pancasila. Ini tak bisa dikerjakan negara saja, Namun menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen.

Sebelum pemaparan Prof. Masud Said, Yudian menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia sekarang harus bangga dan bisa meneruskan perjuangan para pemuda tempo dulu seperti Sumpah Pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan.

“Sumpah Pemuda salah satu bibit pemersatu bangsa yang bisa dikatakan mukjizat. Kata-kata singkat, tapi bisa melumpuhkan siapa pun yang melawan,” ujar Yudian.

Selain itu, Yudian mengatakan pemersatu tertinggi bangsa dan sumber dan tujuan Pancasila dapat ditemukan di 6 kitab suci agama yang diakui secara konstitusional di Indonesia. “Sumber dan tujuan Pancasila dapat ditemukan di 6 kitab suci agama yang  ada di Indonesia. Jadilah Pancasila itu religius,” jelasnya.

Prof Yudian menegaskan bahwa untuk mewujudkan tujuan Pancasila perlu kemanusiaan. Jadi harus ada rasa kemanusiaan dalam diri setiap individu untuk bisa mewujudkan tujuan Pancasila. (AL/PPS)