Nadiem Makarim: Inovasi Teknologi, Dosa Besar, dan Merdeka Belajar Pendidikan di Indonesia

Menteri Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. baru saja melakukan kunjungannya ke Pascasarjana Universitas Islam Malang pada Minggu, 28 Agustus 2022. Kunjungannya kali ini dalam rangka menjadi narasumber dalam Talk Show: “Visi Pendidikan Indonesia di Abad Ke-21 dalam Mewujudkan SDM Unggul”, yang menjadi salah satu dari rangkaian acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LP Ma’arif NU PBNU yang diselenggarakan di Universitas Islam Malang 26-29 Agustus 2022 sekitar pukul 10.30 sampai dengan 12.00 siang. 

Kedatangan Mendikbud Ristek kali ini langsung disambut dengan hangat oleh Rektor Universitas Islam Malang, Prof. H. Maskuri, M.Si, Ketua LP Ma’arif Nu, Prof. Dr. H. M. Ali Ramdhani, M.T. beserta dengan segenap tim. Acara kemudian langsung dimoderatori oleh Prof. M. Ali Ramdhani. 

Teknologi dan Hati Nurani. 

Sembari menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang moderator, Nadiem menjelaskan bahwa saat ini banyak tantangan dan isu isu terkini yang dihadapi oleh pendidikan yang ada di Indonesia. “Banyak sekali tantangan yang kita hadapi tentunya, salah satunya adalah teknologi di dalam pendidikan. Terkait dengan isu-isu yang disebutkan tadi oleh moderator sebelumnya, saya bisa mengatakan bahwa keberadaan guru itu tidak akan pernah tergantikan di pendidikan, sekalipun oleh teknologi”. Jelas Nadiem. 

Dirinya juga menjelaskan demikian, karena seorang murid masih membutuhkan sosok teladan dalam menuntut ilmu. 

“Didalam proses belajar, yang namanya murid atau mahasiswa ini masih butuh yang namanya adalah kedekatan atau kontak batin dengan gurunya yang memberikannya segala macam teladan, ilmu, dan informasi. Disinilah alasan utamanya”. tandasnya lagi. 

Dengan adanya teknologi yang semakin masif perkembangannya saat ini, ia berharap bahwa teknologi bisa memperkuat sektor pendidikan di Indonesia. 

“Saya meyakini bahwa, teknologi itu niscaya akan memperkuat pendidikan kita, sebagai contohnya adalah yang pertama, mengeliminasi dan mengurangi kekurangan yang ada di pendidikan Indonesia, dan yang kedua adalah menjadi wadah (platform) untuk guru agar dapat berkreasi, kolaboratif, dan inovativ, salah satunya seperti digitalisasi sekolah” kata Nadiem. 

Lulusan Harvard Business School itu mengatakan bahwa seorang guru yang hebat bukanlah seorang guru yang mempunyai CV yang mencolok. “Atau juga bukan yang punya segala jenis macam pelatihan, namun adalah seorang guru yang mampu dan bisa mempercayai bakat dan kemampuan murid-muridnya”. urainya. 

Tiga Dosa Besar Pendidikan di Indonesia. 

Ia juga menyebutkan ada tiga besar dosa pendidikan yang ada di Indonesia. “Mereka adalah kekerasan, perundungan, dan intoleransi. Inilah tiga besar dosa besar yang ada di Pendidikan Indonesia saat ini” 

Oleh karena itu, LP Ma’arif kali ini bersinergi dengan Kemendikbud Ristek dalam peresmian Satgas Ma’arif Bermartabat (Pencegahan Penanggulangan Kekerasan, Perundungan, dan Intoleransi) atau bisa disingkat P2KPI. 

Nadiem berharap bahwa P2KPI akan bisa menjadi contoh bagi masyarakat dalam menuntaskan dosa-dosa besar di dunia pendidikan Indonesia tersebut. “Yang saya ketahui, LP Ma’arif adalah organisasi pertama yang menginisiasi penanggulangan kekerasan di pendidikan Indonesia, semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi pendidikan kita” ucapnya sebelum peresmian P2KPI. 

Merdeka Belajar dan Inovasi. 

Tujuan dari merdeka belajar didalam kurikulum yang digunakan saat ini adalah profil pelajar Pancasila. “Jumlahnya ada enam, yakni beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan global, bergotong royong, dan kreatif”. Jelas Nadiem. 

Menurutnya juga, numerasi (kemampuan bernalar dan menggunakan logika untuk menganalisa suatu permasalahan) dan literasi adalah asesmen kunci dalam sebuah perkembangan pendidikan nasional saat ini. “tentunya juga disertai dengan nilai-nilai kebangsaan didalamnya” tambah CEO Gojek tersebut. 

Orang yang dikenal nekat tersebut selalu mengingatkan untuk jangan pernah takut untuk mengambil resiko, selama niatnya itu adalah baik. “Karena kegagalan bukanlah dari ketidakberanian mengambil resiko dan gagal berinovasi, tetapi adalah orang yang diam ditempat, itu sama saja dengan bunuh diri” Tegas Menteri Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi RI ke-44 tersebut.

Pada malam harinya, acara berlanjut ke malam Inagurasi, tepatnya di Kota Batu, yang juga turut dihadiri langsung oleh Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa (AAFR/PPS).