Dompu Dalam Turbulensi Ekonomi, Orientasinya Ambigu Antara Kepentingan Pilkada dan Pemulihannya

dompu turbulensi

Saat ini negara-negara di dunia menyikapi dampak pandemi Covid-19 ialah dengan menitik beratkan terhadap sektor perekonomian. Mengingat bagian ini adalah yang paling terpukul dibandingkan dengan sektor-sektor yang lain. 

Termasuk pemerintah Indonesia bahwa sesungguhnya kebijakan new normal bukan dikarenakan negara sudah aman dari wabah pandemi ini, akan tetapi lebih karena desakan ekonominya. Masalah ini tentu berdampak langsung dengan maju mundurnya perekonomian daerah didalamnya.

Jika kita melihat prediksi dari sejumlah lembaga dunia terhadap pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 ini. Bulan April silam, IMF memprediksi perekonomian global mengalami kontraksi sebesar minus tiga persen. Sementara itu bulan Juni Bank Dunia membuat prediksi pertumbuhan ekonomi global berada di angka minus 5,2 persen, dan prediksi OECD beberapa waktu setelahnya menyebut angka minus 6 persen.

Baca Pula Keluarga Benteng Penguatan Pendidikan selama Pandemi Covid-19

Sementara Indonesia dalam diskusi webinar yang digelar baru-baru ini oleh badan kebijakan fiskal (BKF) dalam hal ini The Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) menyampaikan perkiraan bahwa pertumbuhan ekonomi Nasional pada akhir 2020 (full year) mengalamai kontraksi sangat dalam, yaitu minus 2,5 persen hingga minus 3,9 persen jika wabah virus corona tidak tertangani secara optimal. 

Kabupaten Dompu salah satu daerah kecil di pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pun mengalami dampak yang cukup signifikan. Salah satu Ekonom Dompu Dodo Kurniawan yang merupakan kandidat Doktor Universitas Brawijaya – Malang  menjelaskan dengan detail dalam sebuah tulisannya. Bahwa, jika sebelumnya rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dompu tumbuh diatas 5 persen pertahun maka kini hanya sekitar 3 persen pertahunnya.

Kita bisa saja mengatakan dan berargumentasi toh masalah ini bukan hanya menampar perekonomian Kabupaten Dompu saja akan tetapi hal yang sama juga dialami oleh daerah-daerah lain diluar sana. Lalu apa yang menarik untuk dikaji dari masalah ini ?

Baca Pula Puasa dan Covid-19, Memaksa Kita Menuju ke Arah Kebaikan

Ditengah pandemi virus corona kabupaten ini sebentar lagi akan dihadapkan dengan salah satu momentum bergengsi pesta demokrasi terbesar didaerah ini akan segera digelar yaitu PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Proses transisi kepemimpinan daerah tentu membutuhkan segala daya dan upaya untuk meraihnya. Manuver politik dipasang dimana-mana inilah problematika dasarnya. Jadi kita lihat paradoksnya begitu, mampukah pemerintah melakukan pemulihan kembali perekonomian daerah atau justru terjadi dualisme orientasi antara kebutuhan riil public dalam hal ini memulihkan kembali perekonomian daerah dan atau politik pencitraan guna melanggengkan kekuasaan didaerah ini.    

Diksi ‘turbulensi’ sendiri dalam ilmu ekonomi bukan suatu hal yang baru tidak sedikit ekonom yang menjadikan kata ini dalam mewakili gelombang naik turunnya ekonomi suatu wilayah. Dimana turbulensi cukup identik dengan penerbangan sebuah pesawat yang setiap penerbangannya dipastikan selalu terjadi turbulensi hingga mengakibatkan guncangan didalamnya. Yah, begitulah ilmu ekonomi dapat dianalogikan dengan berbagaimacam hal sejauh itu mampu diargumentasikan.

Baca Pula Muslim Itu Juru Damai, Bukan Pembuat Konflik Dan Kekerasan

Dompu ibarat pesawat terbang, ekonomi daerah ini memang tengah menghadapi turbulensi. Harus kita akui bahwa sebagian besar pesawat pasti merasakan hal yang sama, namun menariknya pesawat satu ini yang sebentar lagi akan lepas landas harus mengalami turbulensi cukup serius. Diakhir masa pengabdiannya dalam waktu yang relative singkat sang pilot dipaksa untuk berfikir keras dihadapkan pada dua bandara kepentingan dimana kedua-duanya dinilai urgensi. 

Pemerintah Dompu memiliki komoditas unggulan yaitu Jagung, ini terbukti dengan diterimanya beberapa penghargaan oleh pemerintah dan sudah menjadi rahasia umum. Harus diakui dan tidak juga kita nafikan bahwa hasil dari proyek raksasa yang didesain selama hampir satu dekade terakhir ini menjadikan kabupaten Dompu selangkah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. 

Namun beberapa pekan terakhir perekonomian daerah ini melemah dimana seluruh aktivitas ekonomi nasional diberhentikan sementara hingga berimbas pada lesunya roda perekonomian daerah. Jagung yang menjadi andalan kabupaten ini justru menjadi ancaman yang cukup serius.

Baca Pula Korupsi, Penodaan Serius Negara Hukum

Dalam waktu yang bersamaan sampai sejak hari ini masyarakat kabupaten Dompu tengah melakukan panen jagung secara serentak dimana sebelumnya masyarakat sendiri digiring untuk melakukan pinjaman kepada sejumlah Bank yang ada. Belum lunas dari utang, masyarakat terpaksa  menjual jagungnya dengan harga yang rendah. Sederhananya rakyat didaerah ini harus jatuh dan tertimpa tangga pula. 

Tidak berhenti sampai disitu, pada masa pandemi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) daerah ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari hambatan proses produksi akibat kesulitan bahan baku dan modal hingga terhambatnya distribusi dan pemasaran, yang menyebabkan penurunan pendapatan hingga 90 persen dan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan.

Win-win solution yang dilakukan oleh pemerintah dengan pihak investor jagung akhirnya spillover ditengah masyarakat. Informasi yang sensitif ini tidak mampu disembunyikan secara sempurna. Hingga sebagian aktivis dan mahasiswa menduga kuat ada konspirasi yang dilakukan oleh kedua pihak tersebut. 

Baca Pula Kiai Tholchah Hasan, James A Bank dan Amerika Serikat

Hingga beberapa waktu yang lalu gelombang unjuk rasa terus dilakukan oleh masyarakat yang sebagian besar didominasi mahasiswa dan pemuda dari berbagai desa yang ada di kabupaten Dompu guna menuntut kenaikan harga jagung yang selama ini menjadi komoditi unggulan Pemda Dompu dinilai cukup rendah tidak sebanding dengan biaya produksinya.

Yah, apa yang mau disembunyikan bahwa sesungguhnya ibu kandung dari segala persoalan ini tidak lebih dari lemahnya pengelolaan dan manajemen pemerintah dalam memanfaatkan instansi terkait guna melakukan terobosan visioner dalam menjawab tantangan perekonomian daerah ditengah mewabahnya pandemik virus corona saat ini.

Selanjutnya, tentu kita perlu menarik benang merahnya bahwa kepentingan Pilkada 2020 dalam waktu dekat menjadikan orientasi kebijakan pemulihan ekonomi syarat akan ambigu. Bupati Dompu sebut saja, diduga sebagai pemeran tunggal atas diusungnya istri beliau sebagai calon Bupati Dompu periode selanjutnya menjadikan beliau harus bekerja ekstra. 

Baca Pula Dari Homonisasi ke Humanisasi

Inilah yang saya katakan dari awal akan terjadi dualisme kepentingan antara pemulihan ekonomi rakyat atau justru agenda-agenda politis dalam melanggengkan kekuasaan yang dimana kedua-duanya sama-sama harus diberi perhatian penuh oleh petahana itu sendiri. Jika kita sedikit kembali kebelakang, dalam teori manajemen yang paling dasar bahwa hampir tidak ada dua pekerjaan yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan dapat terselesaikan dengan sempurna. Pertanyaan besarnya manakah yang akan dijadikan prioritas ?.  

Sebagai seorang politisi tentu yang menjadi perhatiannya ialah berfikir, bagaimana caranya dalam waktu yang sedemikian singkat dengan kepemimpinan sudah mencapai titik klimaksnya ini dimanfaatkan untuk mengembalikan elektabilitas petahana. 

Saya sepakat dengan salah satu Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis UGM, Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc., dalam sebuah tulisannya bahwa perekonomian sekarang telah hilang kendali tanpa ada shock breaking, kebanyakan dipengaruhi motif politis oleh politisi. Pada posisi ini, kaum akademisi diperlukan untuk mengembalikan marwah perekonomian kita agar stabil kembali.

Baca Pula 6 Alasan Kenapa Harus Kuliah di Pascasarjana Unisma

Begitulah, bagi seorang akademisi yang cara berfikirnya masih otentik, tentu merekomendasikan kepada pemangku kekuasaan untuk terlebih dahulu memprioritaskan perekonomian, mengingat masalah ekonomi adalah masalah yang paling fundamental maka sudah seharusnya diberi perhatian penuh. Jika saja masalah ini mampu diatasi, dengan sendirinya masyarakat menilai bahwa kepemimpinan ini cukup baik untuk dilanjutkan.

Sebagai akhir saya hanya ingin menyampaikan, ditengah pandemic covid-19 ini justru harus dijadikan trigger untuk mengoreksi perekonomian daerah maupun nasional kembali ke amanat Undang-Undang Dasar. Sejumlah rekomendasi kebijakan yang mungkin menjadi alternative pemerintah kabupaten Dompu, di antaranya pengembangan stimulus baru untuk UMKM, grand design pemulihan ekonomi lokal, serta komitmen pemerintah dan yang paling penting transparansi kebijakan terkait penanganan Covid-19 ini perlu sebagai pesan moralnya bahwa trust masyarakat terhadap pemangku kebijakan sudah seharusnya kembali.

Selaku civil society kami merasa perlu menerangkannya, pandemi ini memperparah masalah kelaparan dan kemiskinan yang telah menjadi isu besar di negara ini, termasuk kabupaten Dompu. Meski demikian, krisis ini bisa menjadi titik balik dan membuka peluang deglobalisasi pangan. 

Baca Pula Kepemimpinan Pancasila dan Kearifan Lokal

Pemerintah Dompu sendiri dapat bergerak cepat gandeng seluruh elemen dengan penguatan solidaritas, jejaring, dan kolektivitas lokal seperti kembali ke pangan lokal yaitu jagung itu sendiri dan mengembangkan nested market.

Dengan demikian, tentunya kita berharap turbulensi ekonomi daerah kali ini bisa kita lalui dengan selamat dan dibandara yang jelas. Kita tahu bersama turbulensi merupakan masalah yang bisa terjadi kapan saja. 

Hal pertama yang harus dilakukan oleh pilot adalah tetap tenang, jangan panik dan pastinya harus fokus. Bagi kita sebagai penumpang, mesti percaya bahwa sang pilot bisa mengatasinya. 

Penulis: Shoalihin A. Falaq*

(*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang dan Sekjend Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana dan Dosen (FKMPD) Bima dan Dompu – Malang)