Daring Menuju Next Normal

Amanat Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Konferensi Forum Rektor Indonesia, Sabtu (4/7) bahwa kuliah daring (dalam jaringan) yang selama ini sangat lamban dijalankan, sekarang sangat-sangat berkembang. Kuliah daring telah menjadi new normal bahkan menjadi next normal dan yakin akan tumbuh normalitas –normalitas baru yang lebih inovatif dan lebih produktif.

Perkembangan new normal menuju next normal, sistem pembelajaran daring memberikan kualitas luasnya jangkauan berbasis tekhnologi informasi untuk masyarakat milenial yang sudah dapat diakses diberbagai tempat dan waktu. Kemudahan sistem pembelajaran daring berbasis tekhnologi informasi sudah dirasakan oleh berbagai level masyarakat. Hal ini disebabkan revolusi industri 4.0 yang memudahkan orang untuk terhubung secara online.

Pemanfaatan teknologi jaringan di sistem pembelajaran adalah sistem kuliah daring antar perguruaan tinggi. Sistem ini akan baik jika dirasa akan menarik mahasiswa karena adanya penyampaian data yang disiapkan dalam media tersebut menyenangkan, mudah dicerna dan membuat meningkatnya rasa ingin tahu.

Konten yang diberikan haruslah lengkap, jelas, dan update. Untuk memperkaya konten sumber belajar ini, perguruan tinggi harus memiliki Tim IT,  ilmuwan, peneliti, innovator, dan kreator dalam bidang teknologi informasi dan  komunikasi  serta  berpengetahuan dalam bidangnya.  Idealnya,  apabila sumber belajar ini mampu diakses oleh banyak pengguna, murah, dan dinamis. Konten pembelajaran juga diproduksi oleh dosen di perguruan tinggi dalam rangka menumbuh kembangkan technopreneurship perguruan tinggi.

Saat ini, di berbagai perguruan tinggi menerapkan sistem pembelajaran tidak harus diselenggarakan melalui tatap muka. Sistem pembelajaran yang digunakan dosen sebagai media penyampaian ilmu pengetahuan yaitu sistem pembelajaran full daring dan sistem pembelajaran campuran (kombinasi dari dua metode pembelajaran yaitu tatap muka  dan  pembelajaran daring).

Demi memutus rantai penyebaran covid-19 di era new normal dan menjalankan aktivitas pembelajaran kembali, maka sistem pembelajaran pun dapat dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan teknologi dan media internet. Beberapa institusi perguruan tinggi yang sebelumnya melakukan pembelajaran tatap muka di kampus masing-masing, kini harus mengadaptasi model pembelajaran e-learning atau yang biasa disebut pembelajaran daring.

Pembelajaran daring akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik dosen maupun mahasiswa. bagi dosen metode pembelajaran daring hadir untuk mengubah gaya mengajar konvensional yang secara tidak langsung akan berdampak pada profesionalitas kerja. Model pembelajaran daring juga memberi peluang lebih bagi dosen untuk menilai dan mengevaluasi progress pembelajaran setiap mahasiswanya secara lebih efisien. Sedangkan bagi mahasiswa akan melatih kemandirian dan kreatiftas.

Perguruan tinggi dalam menerapkan daring harus memperhatikan keterkaitan antara kehadiran mahasiswa  dengan tingkat kepuasannnya dalam mengikuti pembelajaran sistem daring. Selain itu para dosen harus dapat menciptakan lingkungan virtual yang mendukung pembelajaran agar mahasiswa dapat meraih kesuksesan dalam pembelajaran. Lingkungan virtual pembelajaran yang sesuai dengan keinginan mahasiswa akan menumbuhkan rasa semangat belajar dan motivasi tersendiri bagi mahasiswa.

Menurut Nugroho (2012) penigkatan peran dan keaktifan mahasiswa dalam penggunaan berbagai media dan teknologi untuk sistem pembelajaran daring dipengaruhi oleh persepsi mahasiswa. Dimana persespsi itu merupakan proses penginterpretasian stimulus yang diterima oleh panca indera menjadi suatu untuk memahami materi yang diberikan.

Persepsi ini yang kemudian akan menggerakkan mahasiswa untuk dapat mengatur dan mengelola dirinya dalam kegiatan perkuliahan daring. Hal ini mewajibkan mahasiswa mempunyai ketrampilan mengenai cara belajar, proses berfikir, hingga motivasi belajar mandiri untuk mencapai tujuan belajar atau CPL (capaian pembelajaran lulusan). Kemampuan tersebut dikenal dengan istilah self regulated learning.

Self regulated learning mengacu pada control atau kendali mahasiswa terhadap tujuannya, cara memperoleh informasi, serta pengembangan diri dengan mengenal, memantau, dan mengarahkan tindakannya. SRL tidak dapat dilakukan apabila seorang individu tidak mengenal dirinya dengan baik, tidak memahami apa yang diinginkannya.

Sebelum dapat meregulasi diri, seorang mahasiswa harus dapat mengetahui karakter dan minatnya terlebih dahulu. Mahasiswa akan memetakan minat dan kecenderungannya terhadap beberapa hal terkait pembelajaran daring. Diantaranya ialah mengenai preferensinya pada media yang digunakan untuk belajar, jenis atau pola komunikasi yang ingin digunakannya dengan dosen, dan juga memahami gaya belajar yang dimilikinya.

Dosen sebagai tenaga pengajar harus dapat mengetahui dan memanfaatkan karakter serta kecenderungan tersebut untuk membantu mahasiswa mencapai hasil yang lebih baik. Maka diharapkan dosen memberikan materi atau modul pembelajaran sebelum proses perkuliahan daring dilakukan.(*)

*) Oleh: Rio Era Deka, S.Pd., M.M, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang.
*)Tulisan Kolom adalah tanggung jawab penulis, dan tulisan ini juga diterbitkan di timesindonesia.co.id